Senin, 07 Oktober 2013
Jangan Berdebat Dengan Ahlul Bid'ah.. ” ﺔﻋﺪﺑ ﺐﺣﺎﺻ ﺍﻮﻨﻜﻤﺗ ﻻ ﻢﻜﺑﻮﻠﻗ ﺙﺭﻮُﻴﻓ ، ﻝﺪﺟ ﻦﻣ ًﺎﺑﺎﻴﺗﺭﺍ ﻪﻨﺘﻓ ” ” Janganlah senang berdebat dengan ahlul bid’ah, kelak orang itu akan mewariskan fitnah keraguan di hati kamu ” . ” ﻪﻨﻣﺄﺗ ﻻ ﺔﻋﺪﺒﻟﺍ ﺐﺣﺎﺻ ﻩﺭﻭﺎﺸﺗ ﻻﻭ ، ﻚﻨﻳﺩ ﻰﻠﻋ ﻪﻴﻟﺇ ﺲﻠﺠﺗ ﻻﻭ ، ﻙﺮﻣﺄﻴﻓ ﺔﻋﺪﺑ ﺐﺣﺎﺻ ﻰﻟﺇ ﺲﻠﺟ ﻦﻣﻭ ﻰﻤﻌﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﺛﺭﻭﺃ “. ” Ahlul bid’ah tak akan membuat aman agama kamu, dan akan memusyawarahkan, ia akn mengeluarkan perintah padamu. Jangan duduk bersamanya, siapa yang duduk dengan ahlul bid’ah , Allah akan mewariskan kebutaan ( mata hati untuk memahami agama) ” © Fudhail bin Iyyadh Rahimahullah.
Riya' & Ujub "Dan sering orang-orang menggandengkan antara riyaa' dan ujub. Riyaa termasuk bentuk kesyirikan dengan orang lain (yaitu mempertujukan ibadah kepada orang lain-pen) adapun ujub termasuk bentuk syirik kepada diri sendiri (yaitu merasa dirinyalah atau kehebatannyalahyang membuat ia bisa berkarya-pen). Ini merupkan kondisi orang yang sombong. Orang yang riyaa' tidak merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ "Hanya kepadaMulah kami beribadah", dan orang yang ujub tidaklah merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan". Barangsiapa yang merealisasikan firman Allah إيَّاكَ نَعْبُدُ maka ia akan keluar lepas dari riyaa', dan barangsiapa yang merealisasikan firman Allah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ maka ia akan keluar terlepas dari ujub" © Shaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah _Majmuu' Al-Fataawaa 10/277.
Bid'ah = menghancurkan Agama" “Sebenar-benar perkataan adalah Al-Quran, dan sebaik-baik teladan adalah Muhammad dan sejahat jahat perkara adalah perkara yang baru (muhdats), dan SETIAP perkara yang baru adalah bid’ah, dan SETIAP bid’ah adalah sesat, dan SETIAP kesesasatan tempatnya neraka” Ada Ulama yang berfatwa, bahwa bid’ah terbagi beberapa bagian, ada yang baik ada yang buruk. Sejarah terulang kembali. Yaitu ketika pengikut Nabi Isa Alaihissalam. mengikuti ajaran Taurat (Old Testament) dan Injil yang diajarkan oleh Isa Alaihissalaam. Kemudian datang seorang Paulus yang mengajarkan ajaran baru dan meniadakan ajaran Taurat dan Injil yang diajarkan oleh Isa Alaihissalam. Sebagai gantinya pengikut-pengikut Nabi Isa. wajib meng-imani injil-injil baru, diantaranya Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Johanes. Begitu juga dengan Islam, Allah sudah menyatakan bahwa Islam sudah sempurna, dan Hadits juga sudah mewanti-wanti untuk tidak menambah-nambahmengenai hal ibadah. Tetapi ada ulama yang memperbolehkan bid’ah, karena ia menggap bid’ah-nya baik. Kalau ada ulama yang seperti itu, berarti perbuatan ulama tersebut sama dengan perbuatan paulus, menghilangkan hukum Tuhan dan hukum Rasul dengan fatwa mereka sendiri. Ingat… ulama bukan Nabi. Ibadah tidak perlu ada inovasi, tetapi cukup mencontoh saja apa yang dilakukan oleh Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam. Kalau kita ingin memperbanyak amalan ibadah kita, contoh saja sebanyak- banyaknya amalan yang dilakukan oleh Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam. Masih terlalu banyak teladan-teladandari diri Rasulullah yang belum kita kerjakan. Karena masih banyak yang belum dapat kita lakukan, kenapa kita harus menambahkan sesuatu yang baru?, sesuatu yang tidak Beliau ajarkan. “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah” [al-Ahzab 33: 21] Ada sebagian muslim orang yang mempertahankan amalan bid’ahnya, karena ia menganggap amalannya sangat mulia. Ketahuilah, yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala murkai bukan karena amalannya, tetapi yang dimurkai Allah adalah karena TIDAK MEMATUHI FIRMANNYA DAN TIDAK MEMATUHI SUNNAH NABINYA. Kalau ada sesuatu amalan yang kita dalam keraguan untuk melakukannya, karena bid’ah dan bukan bid’ah, sebaiknya kita tinggalkan saja. Karena meninggalkan hal tersebut kita tidak mendapatkan dosa, sedangkan apabila kita melakukan amalan tersebut, Kita mungkin mendapat pahala, akan tetapi bisa juga masuk ke neraka. Allah menurunkan agama ke dunia ini adalah satu agama, yaitu Islam. karena berselangnya waktu, puluhan tahun, ratusan tahun, ribuan tahun. Tanpa tarasa sedikit demi sedikit umat-umat terdahulu menambahkan sesuatu yang baru (bid’ah). mereka tidak cukup dengan Tuhan saja, mereka menambahkan berhala sebagai sembahan mereka. seperti yang banyak diceritakan Alquran. Ada diantara mereka yang menyembah pohon, seperti penduduk Madyan. Ada yang menjadikan nabi-nabi mereka Tuhan, seperti Hindu. Sidharta Gautama, keluar dari istananya karena ia menganggap bahwa agama yang ada di negerinya yang beragama Hindu sudah tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ia keluar istana untuk mencari agama yang sebenarnya. Akhirnya ia mendapat wahyu. Kemudian ia mencari pengikut-pengikut untuk diajarkan agamanya. Tetapi setelah ia wafat, dan dengan berselangnya waktu, keturunan dari umat- umatnya menambahkan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam ibadah mereka. Lama kelamaan mereka menjadikan Sidharta menjadi Tuhan mereka. Dan menamakan agama mereka agama Budha. Padahal Budha bukanlah nama agama. Budha dalam arti yang sebenarnya adalah Orang Yang Mendapat Pencerahan atau Nabi. Karena Sidharta Gautama adalah orang yang sudah mendapat pencerahan, maka ia juga dipangil dengan Budha. Hindu juga bukan agama, tidak ada dalam kitab-kitab suci agama Hindu yang menyatakan Hindu adalah agama. Hindu adalah nama suatu daerah/tempat. Demikian juga dengan agama Yahudi dan Kristen. dikarenakan adanya bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan secara berkala, yang awalnya mereka islam, berunag menjadi agama seperti sekarang ini. Bid’ah yang terbaru pengikut nabi Isa as. adalah : Mereka menghalalkan pernikahan sejenis (homo sexual). Padahal kitab suci mereka melaknat perbuatan tersebut,. tetapi kini mereka sudah menghalalkannya, bahkan di dalam gereja sekalipun. Padahal beberapa tahun yang lalu, mereka masih mengharamkannya. Itu semua disebabkan oleh bid’ah, mereka membutuhkan 2000 tahun untuk membuat 1 fatwa baru tentang perkawinan sejenis. Wasalam. .
Minggu, 06 Oktober 2013
Lepas Dari Hawa Nafsu Ibnul Qoyyim berkata: “Orang Islam di kalangan manusia, sedikit. Orang mukmin di kalangan orang Islam, sedikit. Orang yang berilmu di kalangan orang mukmin, sedikit. Ahlus sunnah yang berlepas diri dari hawa nafsu dan bid’ah, lebih sedikit lagi. Ahlus sunnah tersebut, yang berdakwah dan bersabar dengan gangguan orang-orang yang menyimpang, jauh lebih sedikit lagi. Akan tetapi mereka adalah hamba Allah yang sebenar-benarnya. Maka mereka tidak terasing, hanya saja mereka terasing di tengah kebanyakan orang yang Allah berfirman tentang “kebanyakan orang”, “Jika kamu ikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (al An’am” 116). Orang kebanyakan inilah justru yang asing di mata Allah dan RasulNya, dan keterasingan mereka ini akan membawa mereka pada kesepian (di alam akhirat –pent). © Madarijus Salikin 3/195-196
Sabtu, 05 Oktober 2013
Cuma ninggalin debat, dapet Syurga.. mikir apa lagi..??? Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam: “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” © H.R. Abu Dawud _al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah 273 as-Syamilah
Langganan:
Postingan (Atom)